Strategi Purbaya: Resep Defisit APBN Tetap Sehat
www.kurlyklips.com – Istilah strategi purbaya mulai sering terdengar ketika defisit APBN harus dijaga di bawah 3% tanpa mematikan ekspansi fiskal. Di satu sisi, pemerintah didorong menstimulasi ekonomi lewat belanja publik. Di sisi lain, disiplin anggaran menjadi syarat penting agar kepercayaan pasar tetap terpelihara. Dilema ini tidak sederhana, terutama saat gejolak global membuat ruang fiskal terasa sempit.
IMF memberi sinyal dukungan terhadap langkah Indonesia mempertahankan disiplin defisit, sekaligus melanjutkan kebijakan fiskal yang mendorong pertumbuhan. Namun, dukungan semacam itu hanya akan efektif bila diterjemahkan menjadi resep praktis, bukan sekadar jargon teknokratik. Di sinilah strategi purbaya menarik untuk dibahas: rangkaian pilihan kebijakan yang mencoba menyeimbangkan keberanian ekspansi dengan kewaspadaan anggaran.
Untuk memahami strategi purbaya, kita perlu melihat hubungan antara defisit APBN, pertumbuhan ekonomi, serta kepercayaan investor. Defisit di bawah 3% bukan angka sakral, melainkan patokan kehatihatian fiskal. Patokan itu memberi sinyal bahwa pemerintah masih sanggup mengelola utang, sekaligus menyediakan ruang gerak bila terjadi krisis mendadak. Jadi, target 3% lebih mirip pagar pengaman, bukan rem total terhadap belanja publik.
IMF menilai kebijakan fiskal Indonesia relatif bijak karena tidak agresif berutang untuk jangka pendek, tetapi tetap membuka ruang ekspansi terukur. Strategi purbaya muncul sebagai pendekatan kompromi. Pemerintah menjaga rasio defisit, sambil mengalihkan belanja ke area yang memiliki efek pengganda terbesar, seperti infrastruktur produktif, perlindungan sosial terarah, serta insentif investasi sektor prioritas.
Dari sudut pandang pribadi, pendekatan ini ibarat mengemudi di jalan licin. Gas masih diinjak supaya kendaraan bergerak, tetapi kemudi digenggam erat agar tidak tergelincir. Strategi fiskal tanpa batas akan mengundang risiko utang tak terkendali. Sebaliknya, pengetatan berlebihan justru menahan pemulihan. Di tengah kondisi serba tak pasti, strategi purbaya berusaha memilih jalur tengah yang realistis.
Bila dibedah lebih rinci, strategi purbaya setidaknya terdiri dari tiga pilar: kualitas belanja, optimalisasi penerimaan, serta manajemen risiko fiskal. Pilar pertama menekankan pergeseran belanja ke program berdaya ungkit tinggi. Bukan lagi sekadar menambah anggaran, melainkan menyaring pos-pos yang memiliki dampak nyata terhadap produktivitas dan lapangan kerja. Belanja seremonial, subsidi tidak tepat sasaran, serta proyek tanpa studi kelayakan kuat perlu dipangkas.
Pilar kedua fokus pada penerimaan. Ruang menaikkan pajak secara frontal terbatas. Karenanya, pemerintah perlu strategi cerdas seperti memperluas basis pajak, digitalisasi administrasi, serta menutup celah penghindaran pajak. Strategi purbaya memandang penerimaan bukan hanya soal tarif, tetapi tentang kepatuhan, transparansi, dan layanan yang memudahkan wajib pajak. Ketika sistem lebih sederhana dan adil, penerimaan cenderung meningkat tanpa menekan dunia usaha berlebihan.
Pilar ketiga menyentuh manajemen risiko. Di sini, disiplin defisit di bawah 3% menjadi jangkar. Pemerintah perlu menyiapkan skenario cadangan bila terjadi guncangan, misalnya kenaikan suku bunga global atau pelemahan harga komoditas. Pendekatan purbaya mendorong pembentukan buffer fiskal, seperti dana cadangan atau pengelolaan utang jangka panjang dengan biaya relatif murah. Dengan begitu, APBN tidak mudah goyah ketika badai eksternal datang.
Dukungan IMF terhadap kebijakan fiskal Indonesia memberi konfirmasi bahwa strategi purbaya berada di jalur cukup tepat, setidaknya menurut kacamata lembaga internasional. Namun, restu IMF tidak boleh diartikan sebagai cek kosong. Tantangan terbesar muncul pada tahap implementasi: apakah pemerintah konsisten menjaga kualitas belanja, berani mereformasi perpajakan, serta disiplin menahan godaan populisme anggaran? Menurut saya, masa depan fiskal Indonesia ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan tipis ini. Jika strategi purbaya berhasil dijalankan secara konsisten, defisit di bawah 3% dapat bertahan tanpa mengorbankan ekspansi yang dibutuhkan ekonomi, sekaligus memberi ruang refleksi berkala agar APBN tetap relevan terhadap kebutuhan generasi mendatang.
www.kurlyklips.com – Dunia crypto kembali mencuri perhatian setelah sebuah perusahaan aset digital resmi menembus indeks…
www.kurlyklips.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpotensi bergerak sideways. Kondisi seperti…
www.kurlyklips.com – Setiap pagi, pelaku pasar menanti rekomendasi saham terbaru sambil mengamati arah Indeks Harga…
www.kurlyklips.com – Perdebatan soal arah pembangunan kembali menghangat setelah proyek lama AHY disorot saat kunjungannya…
www.kurlyklips.com – Analisis IHSG selalu menarik diikuti, apalagi memasuki sesi perdagangan hari Selasa, 10 Februari…
www.kurlyklips.com – Proyek hilirisasi fase pertama milik Danantara senilai 7 miliar dolar AS resmi meluncur,…