Bus, Tol, dan Alarm Keras bagi Keselamatan Transportasi
Berita Bisniswww.kurlyklips.com – Tragedi bus Cahaya Trans di Tol Krapyak bukan sekadar kecelakaan biasa. Insiden maut yang merenggut 16 nyawa ini ibarat alarm keras bagi keselamatan transportasi kita. Bukan hanya karena jumlah korban, tetapi karena pola yang sama terus berulang: armada tidak laik jalan tetap beroperasi, pengawasan longgar, lalu masyarakat akhirnya membayar dengan nyawa. Kisah kelam ini memaksa kita menatap jujur wajah rapuh sistem transportasi, terutama sektor bus antarkota.
Setiap kali berita kecelakaan besar muncul, wacana keselamatan transportasi seakan kembali naik ke permukaan. Namun, beberapa pekan kemudian, semuanya menguap, hingga tragedi berikutnya datang. Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak, bertanya lebih jauh: mengapa bus tidak laik jalan masih leluasa melaju? Apakah kelalaian hanya milik sopir, pemilik perusahaan, atau justru tercermin dari kebijakan yang setengah hati? Jawaban jujur atas pertanyaan ini akan menentukan arah pembenahan keselamatan transportasi ke depan.
Table of Contents
TogglePotret Buram Keselamatan Transportasi di Jalan Raya
Kecelakaan bus Cahaya Trans di Tol Krapyak menyingkap ironi besar keselamatan transportasi. Di satu sisi, kita berbicara tentang modernisasi infrastruktur, jalan tol baru, rest area megah, hingga sistem pembayaran nirsentuh. Namun di sisi lain, armada angkutan publik masih bergantung pada bus uzur, perawatan seadanya, serta manajemen risiko yang minim. Perpaduan fasilitas modern dengan kendaraan setengah siap bagaikan memasang ban aus di mobil sport: tampak gagah, tapi berbahaya.
Ketika hasil pemeriksaan mengarah pada status tidak laik jalan, fokus perhatian mestinya bergeser dari sekadar mencari kambing hitam ke penelusuran sistemik. Bagaimana mungkin bus seperti itu bisa terus mengaspal, melayani penumpang, melewati pos pemeriksaan berkali-kali? Di sinilah terlihat lubang besar pada ekosistem keselamatan transportasi: standar sudah ada, namun penerapan lemah. Aturan tidak otomatis menyelamatkan nyawa tanpa komitmen penegakan tegas di lapangan.
Dari sudut pandang penumpang, keselamatan transportasi sering dianggap sebagai sesuatu yang sudah dijamin oleh negara serta operator. Banyak orang hanya fokus pada harga tiket dan jadwal keberangkatan. Jarang yang bertanya soal uji kelayakan kendaraan, jam kerja sopir, atau rekam jejak perusahaan. Kesenjangan informasi ini dimanfaatkan oknum untuk memangkas biaya perawatan. Pada akhirnya, penumpang membeli tiket murah dengan risiko tinggi, meski tidak pernah diberi tahu secara jujur.
Akar Masalah: Lebih dari Sekadar Human Error
Hampir setiap kecelakaan besar di jalan raya selalu dibuka dengan dugaan awal: human error. Narasi tersebut terkadang membuat publik merasa seolah masalah berhenti di tangan sopir. Padahal, keselamatan transportasi jauh lebih kompleks. Pengemudi hanya bagian ujung, sedangkan di belakangnya terdapat pola rekrutmen pengemudi, budaya lembur berlebihan, sistem insentif, serta tekanan ekonomi perusahaan. Ketika semua faktor itu saling menekan, peluang munculnya kesalahan fatal meningkat tajam.
Bus tidak laik jalan biasanya tidak lahir dalam semalam. Kondisi tersebut hasil akumulasi keputusan berani rugi kecil, tetapi taruhannya besar. Misalnya, menunda penggantian ban, mengabaikan rem yang mulai lemah, atau meremehkan lampu indikator mesin. Dalam jangka pendek, perusahaan menghemat biaya operasional. Namun, dari perspektif keselamatan transportasi, setiap penghematan semacam itu setara menambah satu lapis risiko. Saat semua lapisan berkumpul di satu titik waktu, lahirlah bencana seperti di Tol Krapyak.
Dari sudut pandang pribadi, kegagalan utama kita ada pada cara memandang kecelakaan: sekadar peristiwa takdir, bukan cermin sistem. Selama narasi publik berhenti pada rasa iba tanpa dilanjutkan dengan tuntutan perubahan, pelaku usaha oportunis akan merasa aman. Negara pun cenderung hanya memperbaiki hal teknis, bukan menyentuh akar budaya abai. Padahal, keselamatan transportasi memerlukan revolusi cara pandang: setiap kecelakaan berat harus diperlakukan sebagai studi kasus wajib, bukan berita sekali tayang.
Transformasi Budaya untuk Masa Depan yang Lebih Aman
Mencegah tragedi serupa tidak cukup hanya dengan menambah razia atau memperketat uji kir. Kita memerlukan transformasi budaya keselamatan transportasi. Operator perlu menjadikan keselamatan sebagai identitas merek, bukan sekadar kewajiban administratif. Pemerintah wajib membuka data pelanggaran dan rekam kecelakaan secara transparan, sehingga publik dapat memilih layanan berdasarkan reputasi keamanan, bukan harga saja. Di sisi lain, penumpang perlu lebih kritis, berani menolak naik ketika menemukan bus dengan kondisi mencurigakan. Pada akhirnya, keselamatan transportasi adalah kontrak sosial antara regulator, operator, serta pengguna. Tragedi bus Cahaya Trans di Tol Krapyak seharusnya menjadi titik balik, saat kita berhenti menganggap nyawa penumpang sebagai variabel biaya, lalu mulai melihatnya sebagai pusat seluruh kebijakan, investasi, dan keputusan bisnis terkait transportasi.
